Home / BERITA

Jumat, 9 Desember 2022 - 16:03 WIB

Nelayan Tradisional Sengsara, Pukat Harimau Merajalela, Bagai Tiada Aturan Yang Mengaturnya

ACEH TIMUR – Para nelayan tradisional di seputaran Kuala Idi perairan Kabupaten Aceh Timur mengaku resah akibat banyaknya kehadiran kapal ilegal yang menangkap ikan dengan menggunakan pukat harimau (trawl) sejak tiga tahun silam di perairan Aceh Timur.

Bustami seorang nelayan tradisional warga Desa Pusong Idi kepada media ini saat ditemui Jum’at (9/12/2022) mengaku sedih karena telah kehilangan 97 buah bubu rawe (rajungan kepiting) miliknya pada Rabu 7/12 lalu lenyap akibat terseret pukat harimau yang beroperasi saban hari.

“Bayangkan hampir setiap hari belasan unit kapal yang menggunakan pukat harimau hadir di peraian Kuala Idi, Kuala Simpang Ulim hingga ke Kuala Krueng Thoe Madat, sayangnya terkadang mereka beroperasi jaraknya hanya satu mil dari bibir pantai. Saya pernah meminta ganti dari toke boat katrol, namun tidak ada tanggapan apapun, malah mereka mengaku tidak pernah bersalah,” ungkap Bustami.

Baca Juga  Gubernur Jatim Dukung Gerakan Wakaf ; Upaya Tekan Kemiskinan

Bustami juga menjelaskan akibat ulah dari pukat harimau, banyak nelayan tradisional diwilayah Kuala Idi, Simpang Ulim hingga Kuala Leuge Peureulak menuai kerugian.

“Saat ini ada beberapa unit kapal gunakan pukat harimau, baik ukuran kecil maupun besar terlihat bebas menagkap ikan dengan cara ilegal. Setiap hari terlihat banyak kapal liar, dengan Gross Tonase (GT) berbeda-beda, minimal 10 hingga 20 unit barlayar setiap hari di wilayah Kuala Idi hingga Simpang Ulim dan Madat,” bebernya.

Menyikapi keresahan nelayan tradisional yang barasal dari kelurga miskin, Masri SP aktivis sosial Aceh Timur meminta kepada penegak hukum untuk tindak tegas terhadap kasus tersebut.

Saya meminta Kapolda Aceh, Polres Aceh Timur, Kementerian Kelautan dan Perikanan harus segera turun tangan guna menyelamatkan biota laut, seperti terumbu karang, bio plankton, agar laut di Aceh Timur tidak rusak ekosistem, pinta Masri.

Baca Juga  DLHK Aceh Apresiasi Sekolah Alam KAHFIS, Dinilai Berhasil Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

Jangan sampai seperti laut Belawan Sumut yang tandus akibat terumbu karang rusak sehingga ikan-ikan sudah berimigrasi, tambah Masri.

“Jika itu terjadi, maka yang rugi adalah nelayan kecil yang menangkap ikan dengan alat tradisional,” ujarnya.

Mereka itu mafia yang selalu mengincar zona tangkap nelayan tradisional di Aceh Timur dan bukan hanya itu, mereka juga telah merusak rumpon ikan milik nelayan kecil. Baik siang ataupun malam, mereka itu kapal pukat trawl ada operator nya, kecam Masri

“Pukat pukat harimau adalah hama perusak bagi nelayan tradisional. Akibat ulahnya yang ilegal, semakin merugikan nelayan kecil hingga ekonomi nelayan tradisional semakin terpuruk.” Pungkasnya.

Reporter: DD | Foto: Ist | Editor: DI3N

Share :

Baca Juga

BERITA

Bikin Bangga! Veda Ega Pratama Finis ke-6 di Moto3 Mandalika, Buktikan Mental Baja di Tengah Tekanan

ACEH

Kapasitas Gedung Terlampaui, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi Diserbu Jamaah

ACEH

Penuh Haru! H. Maop Gelar Maulid Nabi 1448 H dan Santuni 40 Anak Yatim di Kantor DPW PA Aceh Timur

BERITA

Aceh dan Sumut Masuk Level Siaga Hujan Sangat Lebat, BMKG: Waspada Banjir Bandang dan Longsor 10-12 Oktober

ACEH

Krueng Geukueh Disiapkan Jadi Gerbang Laut Aceh–Malaysia, Rute Penang Dimatangkan

ACEH

Pemerintah Aceh Jamu Ulama dari 21 Negara, Perkuat Peran Aceh sebagai Serambi Mekkah

ACEH

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Resmi Dibuka di Aceh, Perkuat Persatuan Umat

BERANDA

Viral Klarifikasi Panjang Cristiano Ronaldo Soal Drama di Timnas Portugal, Singgung Janji Pelatih dan Kepercayaan yang Rusak