Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Penulis : Suja Kumara
Mahasiswa Uin Ar-Raniry Fakultas Psikologi Prodi Psikologi Banda Aceh

MEDIALITERASI.ID | ARTICLE – Pentingnya memahami tentang bagaimana algoritma platform media sosial bekerja dan pengaruhnya terhadap perilaku netter (pengguna internet) dalam mengkonsumsi atau menikmati konten. Tidak jarang juga diantara pengguna internet mengalami gejala insomnia (susah tidur) meski di sepanjang hari sudah melewati beragam aktifitas yang melelahkan, namun tetap saja merasa susah untuk memejamkan mata.

Berdasarkan penelitian yang dikutip dari berbagai sumber, pola tidur malam yang baik untuk orang dewasa disarankan mendapatkan waktu tidur 7 jam hingga 9 jam tidur setiap malamnya agar keesokan harinya merasa segar dan bugar.

Fenomena yang terjadi sekarang banyak orang yang kesulitan untuk memejamkan mata pada malam hari lantaran, menggunakan gadget sambil berselancar di dunia maya pada malam hari sehingga dapat mengganggu kualitas tidur.

Adapun jenis penyakit ini di dunia medis lebih dikenal dengan insomnia. Insomnia itu sendiri dianggap sebagai penyakit gangguan tidur atau gangguan tidur kronis. Lebih rinci Insomnia adalah kondisi di mana seseorang memiliki kesulitan tidur atau sulit untuk tetap tidur selama waktu yang diinginkan. Orang dengan insomnia mungkin mengalami kesulitan tertidur di malam hari, ini bisa membuat mereka merasa lelah, kurang konsentrasi, dan bahkan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Penyebab Insomnia

Nah ada beberapa penyebab dimana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur diantaranya : memiliki kebiasaan menggunakan gawai pada malam hari sebelum waktu tidur.

Pada umumnya menggunakan media sosial di malam hari dapat menyebabkan otak manusia terstimulasi secara berlebihan, apalagi dibarengi dengan konten yang menarik dan beragam bisa membuat otak manusia tetap aktif, bahkan setelah berhenti menggunakan gawai.

Selain itu, paparan cahaya biru dari layar ponsel atau perangkat elektronik juga dapat mengganggu produksi hormon tidur seperti melatonin, yang dapat menghambat kemampuan kita untuk tertidur. Jadi, kecanduan pada TikTok atau media sosial lainnya bisa menjadi salah satu penyebab kita kesulitan tidur pada malam hari.

Sekarang pun algoritma pada media sosial itu sangat lah membuat kita kecanduan terhadap platform-platform media sosial tersebut seperti Tiktok, Instagram, Facebook, dan lain – lain,  karena media sosial dirancang dengan memiliki daya magnet yang berbeda – beda sehingga kerap membuat kecanduan.

Ada beberapa faktor yang membuat pengguna kecanduan terhadap penggunaan gawai dan Media Sosial.

Pertama: hope probability (Harapan), Kedua : surprise gift (hadiah kejutan), Ketiga : easy to repeat (mudah diulang),

Hope probability, kita tidak mengetahui itu apa yang akan keluar karna hope atau harapan mau itu vidio yang kita sukai atau vidio yang kita tidak sukai karena berharap untuk melihat konten menarik,  atau mendapatkan like atau komentar pada posting nya yang telah ia posting, atau bisa saja mereka menemukan informasi baru dan menarik, sehingga dapat membuat kita terus kembali ke aplikasi tersebut secara berulang-ulang.

Lalu ada surprise gift (hadiah kejutan) kita akan diberikan vidio yang relate dengan keadaan sebelumnya seperti vidio-vidio yang sering kita lihat-lihat sebelumnya, maka itu adalah sebuah hadiah bagi penikmat sosial media, walaupun ada vidio yang tidak sesuai dengan kita atau pun kejutan ini bisa berupa notifikasi tentang like atau komentar yang kita posting pada akun mereka sebelumnya atau mendapatkan notifikasi yang menarik pada platform yang kita gunakan, ini dapat meningkatkan rasa kepuasan dan kegembiraan pengguna media sosial tersebut, mendorong mereka untuk terus menggunakan aplikasi tersebut. Kita tidak akan merasa kecewa meski vidio yang ditampilkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Easy to repeat (mudah diulang) pengguna itu sendiri sangat mudah mengakses platform media sosial tersebut sehingga pengguna dapat dengan cepat menggulir feed atau mengakses berbagai fitur tanpa kesulitan. Hal ini membuat proses pengguna media sosial menjadi lebih lancar dan cepat, mendorong mereka untuk tetap di dalam platform tersebut dan menghabiskan lebih banyak waktu di dalamnya.

Maka itulah mengapa sekarang media sosial sangat di buat kita addicted atau kecanduan dengannya karena memakai teori addiction atau adiksi faktor tersebut lah yang membuat kita kecanduan terhadap media sosial, lalu mengapa sekarang juga kita tidak bisa filter apa yang kita lihat seperti mengikutinya 0 tapi kita bisa melihat semua konten-konter yang lewat di berada kita apa pun itu, karena ada istilah buy what you want (membeli apa yang kamu inginkan), kalau sekarang by recomending (direkomendasikan) lalu siapakah yang merekomendasikan vidio tersebut ?

Algoritma pada media sosial adalah seperti “otak” di belakang layar yang membantu menentukan konten apa yang kita lihat ketika kita membuka platform seperti Instagram, Facebook, atau TikTok. Algoritma ini memutuskan posting apa yang muncul di feed kita berdasarkan berbagai faktor, seperti interaksi sebelumnya, waktu posting, dan preferensi pengguna.

Jadi, bayangkan jika Anda suka posting tentang kucing di Instagram. Algoritma akan melihat hal itu dan mulai menampilkan lebih banyak posting tentang kucing di feed Anda. Ini karena algoritma mencoba memberikan Anda konten yang menurutnya Anda akan sukai berdasarkan apa yang Anda lakukan di platform.

Namun, ada juga kontroversi seputar algoritma media sosial. Beberapa orang khawatir bahwa algoritma bisa membuat kita terjebak dalam gelembung informasi, artinya kita hanya melihat konten yang sesuai dengan yang sering kita lihat. Algoritma juga bisa membuat kita menghabiskan banyak waktu di media sosial. Mereka dirancang untuk membuat kita terus-menerus terlibat dengan platform, dengan menampilkan konten yang membuat kita ingin terus menggulir dan mengeklik.
Jadi, meskipun algoritma media sosial membantu kita menemukan konten yang kita sukai, mereka juga memiliki dampak yang kompleks pada cara kita berinteraksi dengan platform dan informasi yang kita terima.

Cara Mengatasi Kecanduan

Mengatasi kecanduan bukanlah hal yang mudah seperti semudah ucapan, namun membutuhkan tekad yang kuat. Menghindari kecanduan membutuhkan kesadaran diri dan kebiasaan yang sehat.

Pertama, kenali dan hindari pemicu yang bisa mendorong Anda untuk mengulang perilaku adiktif, seperti stres atau pergaulan dengan teman yang memiliki kebiasaan serupa.

Kedua, ciptakan rutinitas yang positif dan seimbang, misalnya dengan berolahraga, mengikuti hobi yang menyenangkan, dan menjaga pola makan yang baik.

Ketiga, carilah dukungan dari keluarga atau teman-teman yang peduli, atau bergabunglah dengan kelompok pendukung jika diperlukan. Terakhir, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika merasa sulit mengendalikan diri. Dengan langkah-langkah ini, Anda bisa menjaga diri dari perilaku yang berpotensi menjadi kecanduan.


editor

Medialiterasi.id Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia. Melihat Fakta dengan Cara Berbeda Aktual dan Terdepan dalam Menyajikan Beragam Peristiwa di Seluruh Pelosok Nusantara.