Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Oleh :
T.M. Jamil
Senior Lecture, pada Sekolah Pascasarjana, USK, Banda Aceh.

PADA suatu Siang jam di tangan saya telah menunjukkan pukul 12. 20 WIB. Dalam perjalanan saya untuk pulang kampung bersama keluarga, saya ditakdirkan Allah mampir ke sebuah masjid berukuran sedang untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at, sekalian untuk istirahat sejenak. Kendati tidak besar, masjid itu tampak bersih dengan dinding bercat putih. Bersama kami, ada juga beberapa orang musafir yang juga akan menunaikan shalat Jum’at. Akhirnya, kami menunaikan shalat Jumat di mesjid itu dengan musafir yang lain dan warga sekitar. Karena akan menempuh perjalanan panjang, shalat itu kami jamak lagi. Salah satu di antara kami bertindak sebagai imam, yang selain seorang dosen juga kebetulan seorang ustaz.

Secara geografis masjid itu berada di sebuah wilayah Kabupaten dalam Provinsi Aceh ini. Ketika akan menuju tempat mengambil air wudhu, saya sejenak terperanjat dengan empat kalimat indah yang terpampang di dinding. Tampaknya kalimat itu sengaja dipajang di dinding menuju kamar mandi oleh petugas takmir agar siapapun yang akan ke kamar mandi membacanya. Kalimat-kalimat itu saya perhatikan dengan baik dan saya resapi isinya. Bagi saya, isinya sangat dalam. Karena itu, saya mencari secarik kertas dan menulis di atasnya.

“… Yang terdekat ialah kematian,
Yang terjauh ialah masa lalu,
Yang tersulit ialah memegang amanah,
Yang termudah ialah meninggalkan shalat …”

Sebagaimana halnya yang tertulis di atas, kalimat pertama berbunyi ; “Yang terdekat ialah mati”. Kematian itu pasti adanya dan merupakan muara dari kehidupan ini. Kematian tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan status sosial seseorang. Semuanya pasti akan mati. Hidup manusia merupakan rentangan antara kelahiran dan kematian. Rentangan itu disebut umur.

Ada yang pendek, bahkan sangat pendek. Misalnya, meninggal setelah kelahiran, ada yang panjang, dan bahkan sangat panjang. Dalam perguliran waktu, hidup manusia sejatinya tidak bertambah, tetapi justru berkurang mulai hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.

Dalam rentangan itu ada yang mengisinya dengan senantiasa berbuat kebajikan sehingga umurnya bermanfaat, tetapi tidak sedikit orang yang mengisi hidupnya dengan aktivitas hura-hura yang tidak bermanfaat, yang demikian oleh Allah Swt disebut sebagai orang-orang merugi. Karena itu, betul sekali kalimat hikmah itu bahwa yang dekat dengan kita ialah kematian. Sayang, tidak semua manusia menyadarinya bahwa kematian itu selalu mendekat kepada kita secara perlahan tetapi pasti.

Kalimat kedua berbunyi “Yang Terjauh ialah Masa Lalu”. Waktu adalah nafas kita yang tidak akan pernah kembali. Begitu pentingnya waktu sampai-sampai Allah bersumpah bagi orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan beramal shaleh tergolong orang-orang merugi. Karena itu, bagi orang beriman tak sedikitpun waktu yang berlalu dengan sia-sia, kecuali untuk beramal shaleh.

Seiring dengan bergulirnya waktu (detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun), maka yang lewat selalu semakin menjauh dan tidak akan pernah kembali dan bertemu kita. Dengan demikian, berkata “andai kita dulu, umpama dulu, jika dulu…, dan sebagainya” tidak ada maknanya, karena masa lalu tidak pernah mengenal “peng-andaian”. Namun demikian, merenungi perjalanan hidup yang telah lewat tetap penting untuk mengambil pelajaran agar tidak tergelincir kedua kali. Sebab, sejarah biasanya berulang kendati dalam bentuk dan wajah yang berbeda.

Kalimat ketiga, menyangkut amanah. Secara sederhana amanah ialah kepercayaan (trust) yang diterima seseorang karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Orang yang amanah berarti mampu menjalankan perintah dari orang-orang yang memberi kepercayaan dan tidak menyalahgunakan amanah itu. Dalam pandangan Islam, amanah memperoleh penekanan sangat khusus, hingga Rasulullah SAW mengingatkan dalam salah satu sabdanya bahwa, “tiada beriman orang yang tidak menunaikan amanah dengan baik”.

Mengaca pada kehidupan masyarakat kita saat ini, betapa banyak ditemukan orang yang diberi amanah ternyata tidak menjalankan amanah itu dengan baik. Misalnya, betapa banyak pejabat di negeri ini yang ternyata terbukti menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya, melakukan korupsi, memanipulasi informasi, Arogansi kekuasaan dan berbagai bentuk penyelewengan-penyelewengan lainnya yang menghancurkan bangsa ini. Astargfirullahal ‘Adhiem.

Kalimat terakhir, yaitu mengenai shalat. Dalam Islam, shalat menempati posisi sangat mulia dan merupakan tiang agama Islam. Dengan menjalankan shalat, seseorang berarti memperkokoh agama. Sebaliknya, dengan tidak shalat tanpa disadari seseorang telah meruntuhkan agama. Sebab, Islam didirikan di atas lima sendi, yang salah satunya ialah shalat. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisap di hari kiamat nanti. Bahkan baik buruknya amalan seseorang tergantung baik buruknya ibadah shalatnya. Jika shalatnya baik, Insya Allah semua amalannya akan diterima oleh Allah Swt. Begitulah Rasul mengingatkan kita.

Lebih dari itu, shalat merupakan pembeda seseorang itu muslim atau bukan. Demikian pentingnya shalat hingga tidak ada kompromi dan alasan apapun bagi seseorang untuk meninggalkan shalat. Shalat wajib dilakukan oleh setiap muslim tanpa terkecuali, apakah dia seorang rakyat jelata, pegawai negeri, pegawai swasta, orang miskin, orang kaya, aparatur negara biasa hingga presiden. Tidak seperti ibadah lain yang bisa ditunda dan diwakilkan, shalat dilakukan pada waktunya dan dilakukan sendiri, alias tidak bisa diwakilkan. Dalam situasi apapun dan di manapun shalat wajib ditunaikan, kendati harus duduk dan berbaring jika tidak bisa berdiri.

Kendati begitu penting dan mulianya kedudukan shalat, kita menyaksikan banyak orang yang mengaku sebagai muslim, tetapi tidak shalat atau bahkan pura-pura lupa untuk shalat. Na’uzubillahi Min Zhalik. Ada yang menjalankan shalat, tetapi tidak utuh lima kali sehari, alias bolong-bolong. Kalaupun sudah menjalankan shalat, banyak yang belum sepenuhnya memahami makna semua gerakan dan arti yang dibaca. Shalat merupakan media komunikasi manusia dengan Allah. Lewat shalat, seseorang akan mengingat Allah. Sebaliknya, dengan tidak shalat berarti seseorang tidak ingat sang Penciptanya sendiri. Karena itu, wajar jika Allah Swt memberi ancaman yang begitu dahsyat kepada orang yang tidak menjalankan shalat. Sebaliknya, Allah berjanji memberikan pahala secara khusus kepada orang yang menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan khusuk.

Wal hasil, keempat kalimat hikmah itu telah mengingatkan dan menyadarkan saya tentang makna hidup dan kematian yang pasti tiba dan semakin dekat seiring bergulirnya waktu, entah kapan karena merupakan rahasia Allah dan karenanya harus banyak beramal shaleh, sehingga siap jika sewaktu-waktu kita dipanggil Allah. Berikutnya tentang masa lalu yang tidak pernah kembali, sehingga berandai-andai tentang sesuatu di masa lalu adalah sia-sia belaka, dan amanah yang tidak boleh diabaikan, serta shalat yang menempati posisi begitu mulia. Subhanallah …

Akhirnya, saya harus berterima kasih kepada orang yang telah menempelkan empat kalimat hikmah itu. Mungkin dia tidak mengira bahwa tindakannya sangat bermakna, setidaknya bagi saya, keluarga dan mungkin juga jamaah lain yang sempat berkunjung ke masjid itu. Namun, yang pasti yang dia lakukan adalah amal shaleh yang pahalanya Insya Allah terus mengalir sepanjang tulisan itu masih terpampang di dinding masjid itu dan selama ada yang membacanya. Tetapi, siapa tahu dia adalah orang yang sempat membaca tulisan ini. Dalam kajian dan ilmu sosial hal semacam ini dapat dikaji lebih serius dalam perspektif interaksionisme simbolik, Herbert Blumer. Semoga tulisan pendek ini bermanfaat untuk kita. Amin, Ya Rabbal ‘Alamiin.

Bumi Serambi Mekkah, 02 Ramadhan 1445-H.


editor

Medialiterasi.id Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia. Melihat Fakta dengan Cara Berbeda Aktual dan Terdepan dalam Menyajikan Beragam Peristiwa di Seluruh Pelosok Nusantara.