Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Oleh :
T.M. Jamil, Dr, Drs, M.Si
Associate Profesor
Akademisi, Ilmuwan Politik, USK, Banda Aceh.

MARI dan tunggu dulu, memangnya Prabowo sudah pasti menang dan Anies atau Ganjar akan kalah? Bukankah yang mengumumkan kemenangan Prabowo hanya lembaga survei (tak jelas juga) lewat masing-masing quick count atau hitung cepatnya. Well, hampir pasti sih, karena banyak faktor misteri yang belum terkaji. Tapi bukan itu pointnya. Begitu ketahuan hasil hitung cepat Hillary Clinton kalah di Pilpres AS 2016, ia menelepon Donald Trump, lawannya, mengucapkan selamat. Dengan berbesar hati, usai tahapan kampanye pilpres yang sengit dan membelah rakyat Amerika, ia menawarkan diri untuk bekerjasama demi negara sambil mengucap semoga Trump sukses dengan jabatan yang diraihnya.

Hal itu tak kelihatan usai Pilpres 2024 di negeri ini kemarin. Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei menyebutkan Prabowo – Gibran – unggul atas Anies – Muhaimin dan Ganjar – Mahfud di kisaran 57 persen versus 24 persen dan 19 persen. Anehnya, data ini sudah dianggap valid oleh yang merasa diri pemenang, padahal di KPU masih berproses hitungan. Anehnya lagi, Rabu Malam, 14 Pebruari 2024 Prabowo di sebuah tempat yang sudah disiapkan (pantas juga untuk dicurigai, kok sudah ada tempatnya), mengatakan ia pasti sudah menang pilpres 2024 berdasar hasil survei internal partai juga dan bahkan pada satu kesempatan ia bahkan sujud syukur. Sebagai bukti penyerahan diri kepada Allah Swt. Orang segera teringat lagi momen kala Prabowo juga sujud syukur lima tahun lalu, mengira ia telah menang Pilpres 2019. Maka, kontan saja klaim kemenangan ini mendapat banyak reaksi warga.

Benarkah Prabowo tengah berhalusinasi jadi pemenang pilpres? Kenapa ia tak bersikap ksatria seperti Hillary Clinton atau sabar menunggu hasil riel count? Hanya beliaulah yang mampu dan bisa menjawabnya. Orang bisa berdalih, demokrasi Amerika telah dewasa. Usia negeri ‘Abang Sam’ telah dua abad lebih. Saling sikut dan saling cerca semasa kampanye tapi akur begitu yang menang diumumkan, lumrah terjadi di sana. Kita, meski sudah 78 tahun merdeka, baru merasakan alam demokrasi relatif bebas selama 20 tahun terakhir meski kadangkala sering “sakit” dan butuh istirahat.

Jadi, wajar bila ada riak dalam praktek berdemokrasi kita. Wajar dan biasa saja. Mari kita terima dengan hati yang jernih dan sikap dewasa. Nah, di situlah masalahnya. Pemakluman macam di atas rasanya sudah waktunya diakhiri. Seolah menganggap bersikap tak rela menerima kekalahan dalam sebuah kontes adalah hal wajar karena demokrasi kita masih muda usia. Mengklaim diri menang, menuduh lawan main curang, serta tak menerima hasil dari banyak lembaga riset yang menelurkan hasil seragam adalah bukti siap menang, namun tak siap kalah. Benarkah demikian? Wallahu ‘Aklam.

Saya justru teringat dan salut atas sikap ksatria yang patut dipuji justru dilakukan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tahun 2019 yang lalu, terlepas kita suka atau tak suka. Itu bukan hal yang perlu diperdebatkan. Mereka Setelah melihat berbagi hasil hitung cepat menunjukkan PSI tak lolos ke Senayan waktu itu, para petinggi menggelar jumpa pers mengakui kemalangan di pemilu kali ini. Woww … Luar Biasa. Partai yang digawangi kaum muda itu justru memberi contoh bagaimana berpolitik dengan beretika, santun, serta memakai akal sehat. Pertanyaannya lalu, bila yang muda saja bisa menunjukkan praktek politik dengan akal sehat, kenapa yang sudah tua dan punya pengalaman ikut calon berkali-kali tidak bisa bersikap hebat? Tentu saja, hasil hitung cepat bukanlah hasil yang sebenarnya. Rekapitulasi KPU yang jadi acuan alias real count. Nah, itu dulu lho, kini, kita tunggu saja sikap dari PSI atau parpol lainnya. Apakah kini mereka merasa partainya telah didukung penguasa? Entahlah …

Namun, sebagaimana kita tahu, sebuah lembaga survei tak main asal comot sampel TPS untuk ditabulasi jadi hasil hitung cepat. Ada metodologi rumit untuk itu. Namun, ibarat mengambil sampel darah pasien untuk tahu apakah seorang anak terserang demam berdarah atau tidak, cukup diambil darah setetes, tak harus memeriksa berliter – liter darah di seluruh tubuh pasien. Logika sederhana itu harusnya sampai ke elite politik kita. Entahlah … Bila kemudian yang mensurvei patut dicurigai menggiring opini karena bagian dari konsultan politik yang disewa sang lawan politik, ya mari bertanya lagi : masak sich semua lembaga survei bisa dibeli Apalagi nyaris semua lembaga survei mengatakan data yang hampir seragam atau sedikit berbeda. Wallahu ‘Aklam.

Di sini kita jadi patut bertanya, siapa pembisik Prabowo yang menghembuskan angka-angka bahwa ia menang pilpres? Apa pula agenda dari klaim kemenangan ini? Sebagai salah seorang pengajar metodelogi penelitian di kampus tempat saya mengabdi, saya jadi bingung juga. Seolah sudah jadi suratan takdir lembaga survei, ketika menang diakui, dan saat kalah ditolak hasilnya. Yang terbaik memang menunggu hasil rekapitulasi suara dari KPU. Undang-undang telah mengatur mekanisme bila terbukti ada kecurangan pemilu mulai dari laporan ke Bawaslu sampai menggugat ke Mahkamah Konstitusi.

Itulah jalur dan mekanisme yang harus ditempuh. Selama ini, mekanisme tersebut telah berjalan dengan baik. Bukankah lebih indah bila Mas Prabowo tak buru-buru mengkalim menang dan mengajak pendukungnya menunggu hasil akhir dari KPU? Bukankah lebih santun dan ksatria bila ia mendatangi atau menelepon para paslon lain mengucap selamat bahwa pemilu kita telah berjalan baik dan mari kita memulai merajut kembali perpecahan yang mungkin pernah terjadi akibat pilpres ini, siapapun pemenang nanti?

Atau lebih bijak lagi, cukup dengan sikap diam dan diam, sambil berdo’a, semoga Allah swt yang memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Kita sebagai warga negara yang baik, mari berpikir cerdas dan tinggal menunggu kelanjutan dari dagelan politik ini. Apakah sikap tak siap kalah dari segelintir elite dan pendukungnya yang militan akan makan korban rakyat yang tak berdosa dan demokrasi kita? Sungguh amat mahal dan tak sepadan dengan ambisi politik kekuasaan elite. Nah, Apa pula pendapat pembaca media ini?

Dalam amatan saya, pasca pencoblosan, terlihat sangat Beda antara Anies, Prabowo dan Ganjar dalam membaca hasil “hitungan-cepat” Pemilihan Presiden 2024 : Prabowo, yang merasakan dirinya sebagai pemenang. Sedangkan paslon 01 dan 03 hanya mengimbau semua pihak untuk sabar menanti keputusan resmi dari sang wasit. Sebaliknya Prabowo. Dengan cepat, entah berdasarkan data dari mana yang dia percaya, menyatakan diri menang. Ia tak mau lagi menunggu. Ia hanya mempercayai informasi yang dikukuhkan sumbernya sendiri.

Masih ingat, bukan? Di tahun 2014 Prabowo juga melakukan hal yang sama. Ia, di depan kamera televisi, bersujud mencium tanah, mensyukuri “kemenangan” yang sebenarnya palsu, dan banyak orang tahu itu palsu. Dan Terbukti kemudian klaim kemenangannya ditolak Mahkamah Konstitusi. Entah juga MK saat ini. Saya tak terlalu paham, mengapa hal yang sama sekarang ia ulangi : tidak mau sedikit lagi waktu untuk bersabar, seakan-akan ia takut akan kehilangan sebuah fantasi yang indah tapi sebentar. Hanya Allah Swt yang Maha tahu atas semua itu. Ada yang mengatakan, itu perangai dan yang tak lazim.

Ada yang mengatakan, itu tanda tak adanya sportivitas dalam diri seorang petarung untuk dapat menerima kemenangan dan kekalahan dalam bertanding dengan tenang, karena mengikuti aturan wasit yang sudah disepakati bersama. Ada yang mengatakan itu hanya taktik. Wallahu ‘aklam. Kita serahkan saja pada sejarah bangsa untuk melukiskannya dengan tinta emas sebuah proses demokrasi yang sedang berjalan di negeri ini. Bertahan sampai titik terakhir adalah jiwa seorang ksatria. Tapi bertahan dengan menolak kaidah ilmiah yang sudah teruji dan diakui adalah mengingkari cara indah untuk berpikir dengan akal sehat.

Seorang ksatria akan bertahan dengan cara elegan dengan menjaga kewarasan. Bukan dengan cara menista akal sehat yang tak baik. Karena yang demikian itu sama dengan kelakuan para pecundang yang tak siap bermain indah. Tapi, namanya politik harus ada deal, negosiasi. Saya pikir yang terjadi saat ini adalah bagian dari proses untuk melakukan deal tersebut. Maka, sementara ini akal sehat dan bahkan kaidah ilmiah, aturan formal bisa dilanggar.

Secara politik, pertama, seorang pimpinan tidak mungkin langsung mengecewakan pendukungnya. Dia harus menjaga soliditas pendukungnya. Karena jika ia langsung menerima hasil (pilpres) begitu saja, dia akan terlihat lemah di mata pendukungnya. Kedua, bila tidak ngotot, dia akan kehilangan bargaining position (posisi tawar). Dengan cara ngotot ini kan nanti ada proses negosiasi dan tawar menawar di dunia politik. Saya juga tak terlalu paham itu. Yang kita lihat sekarang, hati nurani dan akal sehat dikalahkan dalam kerangka untuk menggolkan sebuah harapan dan kepentingan.

Ketika kepentingan lebih mendominasi dan melebihi dari semuanya (logika, akal sehat, hati nurani), bahkan hak mutlak Tuhan-pun bisa dibajak untuk memenuhi ambisi dan kepentingan itu. Makanya dari kemarin-kemarin saya selalu mengingatkan, dalam dunia politik nilai dan moralitas jadi tumpuan untuk kita semua. Politik adalah dunia yang vulgar, brutal, dan penuh pertarungan yang ketat. Dalam suasana seperti itu semuanya bisa diabaikan. Maka hanya akal sehat dan kesantunan yang mampu melewatinya. Demokrasi kita masih dalam proses pendewasaan.

Amerika mencapai titik seperti sekarang setelah berabad-abad proses pendidikan berdemokrasi. Kita melakukan proses demokrasi yang relatif bebas kan baru beberapa dekade terakhir. Jadi, kita harus lihat ini sebagai proses (pendewasaan politik) kita. Di zaman demokrasi kita yang mulai liberal ini masih terkontaminasi oleh ego, emosi, dan kepentingan yang lebih dominan. Saya yakin setelah KPU menetapkan siapa yang menang, suasana akan aman lagi. Tentu penetapan yang penuh kejujuran. Bila mereka nanti ke MK, nanti sebulan-dua bulan lagi akan selesai masalahnya. Sekarang saja sedang panas-panasnya. Rakyat di bawah juga merasa tenang-tenang saja.

Yang ribut ini cuma elite dan pendukung elite yang khawatir kehilangan posisi. Yang kemarin memilih 01, 02 dan 03 sama-sama tenang, tak ribut. Masyarakat punya self defense mechanism sendiri untuk hal-hal seperti ini, meskipun berusaha ditarik-tarik (elite politik) bahkan sampai membajak hak Tuhan dan melakukan politik uang, nyatanya rakyat kurang tertarik ikut-ikutan. Bahwa, sebagian rakyat kemudian tertarik memilih 01 (AMIN), yang saya amati, suara kubu 01 di banyak provinsi yang ia menangkan rata-rata daerah yang warna Islam formalisnya sangat kental.

Maka saya memahami daerah-daerah itu masih berorientasi pada Islam politik dan simbolisme Islam dalam memilih calon pemimpin. Hal itu kemudian yang menguntungkan oleh kubu 01 atau 03. Itulah sebuah fakta yang bisa kita cermati. Terlepas benar atau tidak. Tentu kita butuh kajian yang lebih ilmiah dan mendalam lagi. Namun pada umumnya, kita bangga dan saya pribadi salut mereka tak bisa menarik orang-orang untuk bersikap bermusuhan, anarkis, atau membuat kerusuhan. Sebuah sikap budaya yang indah dalam berdemokrasi untuk membangun sebuah bangsa dan layak untuk dikagumi dan dicontoh di masa depan. Semoga bangsa ini lebih cerdas dan bijak dalam berbangsa di masa depan.


editor

Medialiterasi.id Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia. Melihat Fakta dengan Cara Berbeda Aktual dan Terdepan dalam Menyajikan Beragam Peristiwa di Seluruh Pelosok Nusantara.