Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Oleh :
T.M. Jamil, Assoc. Prof. Dr. Drs. M.Si.
[Pengamat Politik, USK, Banda Aceh]

ENTAH berapa banyak dari kita yang membuat blok sesama teman, kerabat bahkan saudara kandung karena berbeda pilihan presiden atau pileg jelang kontestasi politik? Saling serang kata-kata di dunia maya hingga nyata, membuat tali persaudaraan, ukhuwah dan silahturahmi terputus. Masing-masing menganggap calon yang dijagokan paling baik, dan calon lainnya buruk penuh dosa. Bahkan saling mengungkit jasa-jasanya di masa lalu…

Padahal dalam beberapa kesempatan, para elite dan partai yang terlihat berkompetisi mati-matian untuk dapat memperebutkan kekuasaan, terlihat menunjukkan sikap bersahabat satu sama lain dalam berbagai momen dan kesempatan. Bahkan, mereka yang dinilai musuh bebuyutan di tingkat nasional, bisa berkoalisi untuk merebut kekuasaan di tingkat daerah. Meski akhirnya, Prabowo juga waktu itu meninggalkan pendukung setianya dan dia bergabung dengan Pemerintahan Jokowi. Aduh …. sakitnya hati ini … begitulah kata pendukungnya kala itu.

Bahkan dalam sejumlah momen, sikap mereka jauh dari kesan permusuhan antar satu dengan lainnya. Salah satu contohnya, yaitu Jokowi dan Prabowo (melawan lupa) yang dinilai sejumlah pihak sebagai musuh bebuyutan dalam dua kali pilpres (2014 dan 2019). Keduanya beberapa kali terlibat dalam perbincangan hangat dan bersahabat. Tak terlihat saling bersaing.

Pernahkah Anda melihat dan mengingat, Dalam pertandingan silat di ajang Asian Games 2018 Prabowo dan Jokowi bahkan tak menunjukkan sikap tak suka ketika keduanya dirangkul bersamaan oleh pesilat putra Hanifan Yudani Kusuma peraih medali emas nomor Tarung Putra kelas C (55-60 kg). Apakah sikap bersahabat dari keduanya adalah sikap yang tulus dari dalam hati atau sekadar pencitraan dari kedua capres itu?

Terlepas dari itu, rangkulan ketiganya membuat tensi politik pada waktu itu sedikit menurun sejenak. Sejumlah akun medsos dari pendukung kedua kandidat terpampang foto momen berharga dengan status yang menyejukkan hati dan menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan dan persatuan. Itu semua terjadi setelah 5 yang lalu.

Sekedar ilustrasi Pemilu 2019 lalu lihatlah, Tagar(#)IndonesiaTetapBersatu yang telah sempat disebarkan disejumlah platform medsos. Namun sayang, selang beberapa hari, perang kata-kata kedua kubu kembali tersaji di dunia maya. Masya Allah. Semua itu terjadi karena mereka tak pernah dewasa dalam menerima perbedaan dan merasa dirinya yang paling benar dan hebat.

Ada anggapan bahwa sejatinya pertarungan antar dua kubu pendukung capres hanya terjadi di dunia maya dan sebarannya hanya di kota-kota besar saja. Kelas menengah atas dinilai memiliki peran besar dalam mentradingkan pertarungan tagar, meme dan status di dunia maya. Apakah trending topik pertarungan di dunia maya murni dimainkan pendukung setia kedua kubu capres atau ada skenario dari tim cyber army yang mencoba memanaskan situasi?

Apakah serangkaian peristiwa yang menunjukkan kedekatan antar para kandidat yang bertarung pada Pilpres juga Pileg 2024 ini tidak membuat para pendukung mereka sadar dan mengedepankan persatuan ketimbang pertarungan dalam kontestasi politik? Apakah ada skenario yang dimainkan kelompok tertentu untuk memecah belah anak bangsa dengan memanfaatkan kontestasi politik ini?

Apakah ada kaitannya kesejahteraan dengan sikap masyarakat yang cenderung mengutamakan konflik jelang kontestasi politik? Langkah apa yang sebaiknya diambil untuk mengakhiri kondisi persaingan yang berdampak pada terpecahnya masyarakat ke dalam kubu-kubu? Apakah konflik ini dianggap biasa saja dan tidak mengancam persatuan bangsa dan negara? Sejauh ini, di dunia maya terlihat hampir semua kelompok mempertahankan kebenaran dari sudut pandang masing-masing, dan berupaya saling menjatuhkan satu sama lain.

Kontestasi politik sebelumnya menunjukan, tak sedikit apa yang ada di dunia maya, berdampak pada dunia nyata. Perpecahan terjadi antar masyarakat. Apakah ada gerakan yang telah berupaya untuk mempersatukan masyarakat dan menyejukan suasana jelan kontestasi politik?
Atau Bagaimana kita harus bersikap?

Gejala elite berdamai sedangkan pendukungnya memanas itu gejala yang lumrah. Kelompok elite itu cukup makan, cukup tidur dan gajinya cukup, jadi mereka santai-santai saja.

Tetapi, rakyatnya hidup serba kekurangan, dari hari ke hari mencari sesuap nasi. Kondisi ini bisa jadi membuat rakyat mudah terpancing emosinya. Selain itu masih ada elite kita yang sifatnya kekanak-kanakan.

Mereka tidak berfikir panjang bagaimana persatuan dan kesatuan bangsanya. Dalam pikiran para elite itu hanyalah bagaimana cara untuk mengerahkan massa untuk memenangkan persaingan dalam kompetisi politik perebutan kekuasaan.

Ini adalah gejala yang hampir dialami seluruh elite di dunia. Kondisi kekurangan pangan, kekurangan kesempatan, kekurangan waktu dan sebagainya, maka orang semakin sensitif untuk berebut rejeki, peluang ataupun kesempatan.

Ditambah lagi terbuka kemungkinan untuk melanggar aturan-aturan yang ada dalam persaingan. Akibatnya persaingan yang demikian luas, berlangsung tidak adil atau fair. Situasi tidak fair ini kemudian digunakan juga pada persaingan antar elite.

Mereka menggunakan simbol-simbol ikatan primordial untuk memancing masa. Salah satu ikatan primordial yang kuat adalah agama. Jadi akhirnya, agama bukan diikuti sebagai ajaran, tapi sekadar simbol bahwa mereka satu kelompok.

Nama Tuhan dijual untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, yang sejatinya jauh dari ajaran agama itu sendiri. Kembali lagi, sensitivitas atau emosi yang melarat, miskin dan lapar, dengan mudah dipanasi atau dibakar api cemburu dan merekalah yang bergerak.

Tidak peduli apakah mereka mendukung atau menolak kandidat tertentu, semua terpancing emosinya dengan lancar dan menakutkan. Para elite tertentu memanfaatkan emosi rakyat yang lapar, serba kekurangan berbagai kebutuhan hidup serta susah itu, dengan janji-janji surgawi.

Itulah yang sekarang sedang dan terus akan terjadi. Untuk kepentingan politik sesaat para elite acap kali memanfaatkan kondisi rakyat yang ada. Jadi tidak berfikir panjang, yang penting it’s now or never.

Tapi mereka tidak berfikir lebih jauh lagi. Sekarang tinggal keras-kerasan menggonggong. Orang Jawa bilang, “asuh gede menang kerahe” (anjing besar menang berkelahinya. Besar-besaran gongonggnya). Para elit pun memanfaatkan emosi para pemilih dan pendukungnya. Jadi masalahnya semakin runyam dan mengkhawatirkan untuk sebuah bangsa. Lihatlah setelah debat kali ke 2 capres, debatnya sudah selesai, tapi sampai sekarang masih menyisakan “pertengkaran”.

Sementara Di kalangan elite Rangkul-rangkulan, makan bersama, guyonan, itu hal yang biasa. Tapi begitu mereka dihadapan rakyat, mereka terus berkelahi. Seolah-olah memelihara konflik, hal ini sangat disayangkan dan dilakukan oleh calon pemimpin bangsa.

Apa yang pernah dilakukan Jokowi dan Prabowo kala itu mengikuti keinginan Hanifan untuk berangkulan memang sebuah pencitraan. Tidak mungkin dalam situasi seperti itu kedua capres menunjukan sikap konfrontasi dan menolak diajak berangkulan. Sebuah contoh yang layak ditiru oleh para pendukung atau penentangnya. Tapi kenapa pada Pemilu 2024 ini dari ketiga paslon capres seperti sangat sulit untuk bisa saling menghargai dan memahami?

Artinya dengan bersikap seperti itu, keduanya menunjukan sikap sportivitas, juga ingin menunjukan contoh dan sikap kenegarawanan. Simbolpun digunakan sebagai alat untuk memperkuat dukungan.

Namun di sisi lain, waktu itu, keduanya punya basis massa yang loyal, dan itu juga harus dijaga. Jika dibikin kendor, tidak akan ada lagi loyalis dari keduanya. Artinya jika kita bicara mengenai simbol-simbol tadi, sederhana saja, itu sekadar penguatan citra diri.

Jika kita kita merujuk pada teori interaksi simbolik, ada mind (pikiran), self (diri) dan society (masyarakat). Apa yang ada di kepala atau pikiran kita, kemudian terinternalisasi terhadap diri kita, selanjutnya terjabarkan di dalam lingkungan masyarakat.

Nah, jika Mas Prabowo Subianto yang berlatar militer, cenderung keras, mengerikan dan sebagainya, ketika rangkulan dia menunjukan diri sebagai seorang negarawan sejati. Dia seorang yang punya kelembutam, kedamaian dan manusiawi, memberikan simbol bahwa dirinya layak menjadi pemimpin. Tapi itu semua di masa lalu.

Itu bisa tercermin hanya dengan sekadar berangkulan. Artinya yang tindakan seperti itu bisa merubah masa lalu Prabowo yang cukup dramatik, masa lalu tersebut harus dihilangkan. Karena saat itu dia bersanding dengan Sandiaga Uno yang tidak punya track record masa lalu yang buruk. Sedangkan kini, Gibran sebagai pasangannya, sangat rentan dengan kemarahan… Nah, mestinya ini harus diimbangi dengan nuansa seperti itu.

Ini adalah langkah yang baik, serta memberikan kesan seolah dia kuat. Setelah itu, isu-isu yang belakangan muncul bisa saja digunakan untuk penguatan. Juga memainkan isu adalah sebagai penguatan identitas diri. Artinya ketika ada isu yang kuta bisa dimainkan, ini akan menjadi penguatan identitas diri. Sebagai contoh, sekarang isu naiknya dolar. Isu itu kan semakin menguatkan terhadap identitas Jokowi. Apakah dia masih layak untuk menjabat lagi atau tidak. Tidak heran kalau isu seperti itu tetap dimainkan. Kondisi seperti ini berarti simbol itu digunakan sebagai penguatan. Entahlah … Biarlah sejarah bangsa yang akan menjawabnya.


editor

Medialiterasi.id Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia. Melihat Fakta dengan Cara Berbeda Aktual dan Terdepan dalam Menyajikan Beragam Peristiwa di Seluruh Pelosok Nusantara.