Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Pengamat Pendidikan, USK, Banda Aceh

*Salamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mai 2023.*

Sungguh Luar Biasa. Beberapa waktu yang lalu kita dapat membaca tentang Esther Duflo, Abhijit Banerjee, dan Michael Kremer, tiga ekonom dari Amerika, diganjar Hadiah Nobel 2019 bidang ekonomi atas upaya mereka memerangi kemiskinan global. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyatakan mereka memenangkan Nobel untuk pendekatan eksperimental dalam mengatasi kemiskinan.

Isu kemiskinan juga yang membawa Muhammad Yunus, seorang bankir dari Bangladesh, meraih Nobel Perdamaian. Dia mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk pebisnis kecil yang tidak memenuhi kriteria menjadi debitur bank umum. Yunus lalu mengimplementasikan gagasannya dengan mendirikan sebuah bank yang bernama : Grameen Bank.

Konsep kredit mikro Muhammad Yunus diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Sejak itu lahir produk perbankan yang menjadikan sasarannya masyarakat bawah. Berbagai nama disematkan mulai dari kredit UMKM, Kredit Usaha Rakyat (KUR), PKBL, Dana Bergulir dan lain-lain yang intinya bertujuan membantu rakyat kecil mandiri secara ekonomi.

Esther Duflo, Abhijit Banerjee, Michael Kremer, dan Muhammad Yunus memiliki pendekatan berbeda, tapi tujuan mereka sama; Kemiskinan harus lenyap dari muka bumi. Diperkirakan lebih dari 700 juta orang masih hidup dengan pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang sangat rendah.

Di samping itu, sekitar 5 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal dunia setiap tahun karena penyakit yang tidak dapat dicegah atau disembuhkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan kemiskinan global telah berkurang lebih dari setengah sejak 2000. Menurut lembaga tersebut, satu dari 10 orang di negara berkembang masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1,9 dolar AS per hari.

Indonesia sampai kini juga masih menghadapi kemiskinan. Pemerintah hanya memberi janji palsu dan selalu mengklaim kemiskinan sudah jauh berkurang dan berada di level satu digit, terendah dalam sejarah Tanah Air. Namun, jika pendapatan 1,9 dolar AS yang digunakan PBB sebagai tolok ukur, kemiskinan di Indonesia akan kembali membengkak dan membuat kita sebagai bangsa ini ‘sesak nafas’ mendengar tentang penderitaan dan kemiskinan rakyat.

Di tengah perjuangan negara-negara dan lembaga internasional memerangi kemiskinan, tiga ekonom ini datang dengan tawaran konsep yang sangat indah dan menjanjikan. Mereka sekaligus menjawab pertanyaan yang selama ini menjadi perhatian para ekonom dan pengambil kebijakan apakah investasi dalam infrastruktur pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi kemiskinan?

Esther Duflo menggunakan studi kasus pembangunan SD Inpres di Indonesia. Pemerintah RI membangun lebih dari 61.000 sekolah dasar di seluruh negeri pada periode 1973 – 1978. Ini adalah salah satu program pembangunan sekolah dasar terbesar yang pernah dilakukan oleh pemerintah yang sedang berkuasa saat ini.

Dia mengevaluasi pendirian program ini pada pendidikan dan usia seseorang dengan menggabungkan perbedaan lintas daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun dengan perbedaan lintas kelompok yang dilakukan pada saat program dijalankan.

Perkiraan itu menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dasar menyebabkan peningkatan pendidikan dan pendapatan masyarakat. Anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun pada 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak masa pendidikan untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Dengan menggunakan berbagai macam sekolah yang dihasilkan oleh kebijakan ini sebagai variabel instrumen untuk mengukur dampak pendidikan terhadap upah, menghasilkan perkiraan pengembalian ekonomi dari investasi pendidikan sebesar 6,8 persen hingga 10,6 persen.

Riset ketiga ekonom ini telah menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat diatasi dengan memecahnya menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil di bidang pendidikan, sehingga membuat masalah lebih mudah untuk dipecahkan dan diselesaikan. Hasil studi dan eksperimen lapangan mereka seputar peran pendidikan membantu jutaan anak sekolah di negara India.

Riset Duflo, dkk ini menepis resep yang selama ini dipercaya sangat ampuh untuk mengentaskan kemiskinan yakni melalui bantuan asing dan membebaskan perdagangan dengan negara-negara miskin. Cara ini dinilainya dilebih-lebihkan dan tak menunjukkan keberhasilan nyata.

Peran pendidikan dalam mengentaskan kemiskinan sebenarnya sudah dialami oleh banyak individu di Tanah Air. Beberapa kisah menyebutkan bagaimana seseorang dari keluarga tidak mampu berhasil mencapai karir tertinggi dengan segala kemewahan yang didapatnya, hanya berbekal pendidikan yang baik dan berkualitas.

Maukah kita menjadi bangsa yang kaya? Maka Jawabannya adalah : Tingkatkanlah potensi diri melalui pendidikan. Bagi masyarakat bawah yang tidak memiliki ekuiti untuk berbisnis atau terjun ke dunia politik, pendidikan menjadi modal untuk naik ke orbit yang lebih tinggi, ke strata sosial di atasnya, menjadi pejabat tinggi, perwira, atau profesi lain yang menjanjikan.

Sayangnya, pendidikan semakin hari semakin mahal, terutama pada tingkat perguruan tinggi. Hanya orang-orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Sekolah menjadi sangat elitis. Masyarakat kelas bawah berharap pada program beasiswa, namun jumlahnya masih terbatas dan belum menjadi jawaban yang menyeluruh untuk anak negeri.

Di samping itu, program pengentasan kemiskinan melalui bantuan sosial belum menjadi solusi jangka panjang, menyeluruh, dan berkelanjutan. Program tersebut harus dikombinasikan dengan program lain agar rakyat tidak rentan dan jatuh miskin lagi.

Konsep yang ditawarkan Esther Duflo, Abhijit Banerjee, dan Michael Kremer menjadi harapan bagi penyelesaian masalah kemiskinan secara fundamental, berkelanjutan, menyeluruh untuk semua rakyat. Semoga dunia dapat belajar dari program yang pernah diresepkan oleh Presiden RI, Soeharto.

Nah, kalau begitu – Kita tak perlu malu untuk mengakui sebuah keberhasilan atau kesuksesan orang lain, siapapun dia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang cerdas mengakui kesuksesan orang lain sambil belajar untuk mewujudkan impian dan keberhasilan diri sendiri.

Begitulah seharusnya kita dalam menjalani hidup ini. Melupakan keburukan orang lain kepada kita dan selalu berusaha untuk mengingat kebaikannya yang pernah kita rasakan saat bersamanya. Masya Allah.

*Aceh, Senin 1 Mei 2023*


editor

Medialiterasi.id Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia. Melihat Fakta dengan Cara Berbeda Aktual dan Terdepan dalam Menyajikan Beragam Peristiwa di Seluruh Pelosok Nusantara.