Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.
Salah satu pengunjung sedang melihat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska gelombang Tsunami dan masa damai.

BANDA ACEH – Aceh pernah mengalami masa keterpurukan saat konflik dan bencana Tsunami yang memporak porandakan Aceh, hingga akhirnya lahirlah perdamaian dari konflik Aceh yang berkepanjangan. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui UPTD Museum Tsunami Aceh menggelar pameran temporer Memori Helsinki.

Pameran Memori Helsinki menggambarkan momen-momen penting dari proses perdamaian Aceh hingga penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 silam, serta proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska gelombang Tsunami dan masa damai.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal yang berlangsung di ruang pameran temporer lantai 3 museum, Senin, (7/11/2022)

Almuniza menyampaikan, Aceh pernah terpuruk akibat dampak dari konflik yang berkepanjangan serta bencana gempa dan tsunami 2004. Namun, dibalik konflik dan musibah tersebut ada berkah yang terjadi yaitu penandatanganan MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 silam.

“Bagaimana proses penandatangan perdamaian itu berlangsung di Helsinki kita tampilkan di museum walaupun tidak lengkap namun dapat mewakili kejadian pada masa itu,” kata Almuniza.

Lebih lanjut, Almuniza, menuturkan dipilihnya Museum Tsunami Aceh sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan ini karena mempresentasikan perdamaian yang terjadi di Aceh.

“Jembatan di tengah kolam dinamakan Jembatan Perdamaian. Jembatan tersebut, melambangkan tsunami Aceh yang juga berdampak positif bagi pihak-pihak yang terlibat konflik di Aceh,” ungkap Almuniza.

Kita juga bisa membaca nama-nama negara yang telah membantu Aceh selama masa bencana dan pasca bencana yang dipahatkan pada batu di sekeliling kolam serta dilangit-langit yang ditulis dengan bahasa masing-masing negara yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “damai”.

Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra AZ, membeberkan maksud dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk menggali ilmu yang mungkin belum pernah dipublish kepada pengunjung khususnya kepada para generasi muda Aceh agar tidak pernah melupakan sejarah.

“Kami ingin masyarakat luas, khususnya generasi muda tidak melupakan sejarah Aceh baik pada masa konflik, musibah gempa dan tsunami 2004, hingga masa kebangkitan masyarakat Aceh melalui proses rekontruksi dan rehabilitasi, serta masa damai,” imbuh Syahputra.

Melalui pameran temporer ini, Syahputra, mengajak para pengunjung dan generasi muda untuk lebih tertarik dengan kehidupan Aceh sebelum dan setelah kejadian tsunami yang menimpa Aceh.

Reporter : AF | Photo : Aulia Fitri | Editor : Endang


editor

Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia