Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

LHOKSEUMAWE – H. Munawar atau lelaki yang akrap disapa Cek Mun yang memiliki nama Produk olahan Mr. Phep memberi motivasi untuk berwirausaha kepada 20 peserta dari Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM-2) yang dilakukan di outlet Mr. Phep. Acara yang berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga 16.30 WIB itu berlokasi di Jalan Medan Banda Aceh Km 275, Alue Awe Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe, Sabtu (1/10/2022)

Cek Mun atau memiliki panggilan Mr. Phep menuturkan, dirinya sangat senang berbagi ilmu, terutama kepada Mahasiswa dikarenakan masih memiliki semangat yang besar untuk berwirausaha.

Menurut Mr. Phep, tujuan diadakan acara tersebut untuk memotivasi mahasiswa Modul Nusantara yang ingin terjun ke dunia usaha atau pengusaha pemula yang ingin lebih banyak tahu tentang dunia usaha.

“ada orang yang punya modal tapi tidak berani membuat usaha, ada juga orang yang punya niat berusaha tapi tidak punya modal, disini kita akan shering ilmu”, ucap Cek Mun.

Selain itu Mr. Phep juga memberi wejangan, menurutnya memulai bisnis tidak harus memiliki modal yang besar akan tetapi dengan memiliki niat yang kuat, karena dengan memulai usaha kita akan dibimbing dari kekurangan-kekurangan untuk ditingkatkan usahanya sehingga dikenal oleh masyarakat luas.

Motivasi Cek Mun sendiri dalam mengembangkan usaha yang sedang digeluti saat ini berawal pada tahun 2016 saat itu dirinya sering membaca berita, mengenai info ikan tongkol melimpah bahkan hingga membusuk tidak ada yang beli serta dimanfaatkan.

“Hal itu membuat saya sangat prihatin, karena ikan-ikan hasil jaring nelayan kembali dibuang ke laut,” ungkap Mr. Phep.

Namun ketika dirinya masuk ke pasar modern, dia melihat ada ikan tuna yang dikemas dan dijual dengan harga Rp 32 ribu per ons. Sementara, di Kota Lhokseumawe ikan tongkol sangat melimpah, namun tidak bisa dimanfaatkan.

“Nah, disini saya membeli ikan-ikan tersebut dan membuat Keumamah supaya ada peningkatan nilai jual ikan tongkol,” ujarnya.

Usaha yang sudah dirintis lebih kurang lima tahun ini berawal dari keisengannya memasak Keumamah dan dicicipi teman-temannya. Dosen Ilmu Managemen dan Kewirausahaan Universitas Almuslim itu, kini mampu meraup omzet Rp15 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

“Awalnya cuma iseng, saya masak dan kasih ke teman-teman di kampus. Saat itu kata mereka masakan saya sudah layak untuk dijual, kemudian saya kemas dalam plastik bening serta belum ada kemasan dirinya termotivasi untuk mengembangkan home industry tersebut lebih serius”, tuturnya.

Kemudian pada tahun 2018, Cek Mun mulai membuat kemasan yang menarik dengan diberi nama Mr Phep Marine Product dan mengurus segala keperluan administrasinya.

Alasan diberi nama Mr Phep, lanjut Cek Mun, karena orang Aceh suka memasak masakan Phep, dan supaya terkesan global dirinya memakai nama Mister (Mr) maka jadilah satu nama yaitu Mr Phep. Kata Cek Mun, dalam sehari dirinya mampu menghasilkan hingga 200 kemasan, dengan jumlah ikan yang dihabiskan sekitar lima kilo Keumamah yang sudah dikeringkan.

“Namun, selama pandemi produksi mulai berkurang, karena permintaan konsumen juga sepi. Jika pun ada kami produksi sesuai dengan permintaan konsumen saja. Keuntungan yang sebelumnya mencapai Rp 20 juta, saat ini hanya Rp 5 juta hingga Rp10 juta saja,” jelasnya.

Cek Mun juga menceritakan, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia khususnya Provinsi Aceh, dirinya terpaksa memberhentikan karyawannya. Sebab, hasil penjualan tidak sesuai, sehingga tidak sanggup untuk membayar gaji.

“Sempat saya pertahankan hingga dua bulan, ternyata omzet menurun, dengan terpaksa mereka saya berhentikan dulu, karena tidak sanggup untuk membayar gaji,” kisahnya.

Keumamah dan sambal sunti hasil produksi milik Cek Mun, bukan hanya dipasarkan di Aceh. Akan tetapi dirinya memanfaatkan sosial media untuk berjualan online. Sehingga kuliner itu saat ini sudah terpasarkan hingga ke sejumlah kota besar di Indonesia.

“Saya sering menyampaikan dala forum jika ada kegiatan, ketika mengatakan ingin mengangkat kuliner Aceh ini ke tingkat Internasional. Namun tak sedikit juga yang menertawakan, namun saya yakin, jika sama-sama mempromosikannya pasti akan tembus ke pasar internasional,” kata Cek Mun.

Adapun yang menjadi kendala, sebut Cek Mun, ikan Keumamah hanya bertahan dua bulan dan sambal sunti lima bulan saja. Disebabkan, dirinya belum memiliki mesin untuk seterilisasi.

“Harapannya ke depan semoga bisnis ini menjadi produk unggulan dan tembus ke pasar nasional bahkan internasional. Dan kepada generasi muda tetap semangat jika ingin membuka bisnis, tidak perlu dengan mesin mewah untuk memulainya,” imbuhnya.

Kegiatan yang diikuti 20 mahasiswa ini dibimbing oleh Dosen Modul Nusantara, Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd dan dimentori Rizky Amanda. Dalam kesempatan yang sama, Juni Ahyar mengatakan, kegiatan ini diikuti  begitu antusias oleh seluruh Mahasiswa.

“Hal itu terlihat dari banyaknya mahasiswa yang aktif bertanya”, pungkas Junia Ahyar

Reporter : JA | Photo : Junia Ahyar | Editor : Endang


editor

Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia