Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.
Mahasiswa Modul Nusantara Kelompok 5 Universitas Malikussaleh 2022

EDUKASI –Bahasa campuran (code-mixing) merupakan salah satu bentuk gaya bahasa yang muncul dalam masyarakat bahasa bilingual ataupun multilingual. Salah satu bentuk bahasa campuran yang akhir-akhir ini marak digunakan dan mendominasi dalam percakapan generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa di Universitas Malikussaleh adalah bahasa campuran Indonesia-Inggris atau dikenal juga sebagai bahasa Indoglish atau bahasa Aceh.

Munculnya gaya bahasa campuran secara umum merupakan hasil kontak bahasa dalam masyarakat bahasa yang bilingual atau multilingual dan kontak bahasa semacam itu semakin masif terjadi di era milenial ini.

Maraknya penggunaan bahasa campuran Indonesia-Inggris tersebut nampaknya perlu digali lebih lanjut mengenai alasannya karena dinamika penggunaan bahasa dapat dijadikan sebagai indikator bagaimana dominasi budaya tertentu atas budaya lain dalam masyarakat.

Asti Nur Fauziah, (Bahasa Indonesia 2021) dari Institut Pendidikan Indonesia, Ananda Fikriah Hasan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Aristya Ayu Khasanah dari Universitas Diponegoro dan Silvia Maharani dari Universitas Jember yang tergabung dalam Tim Program Modul Nusantara 2 (MN2) Unimal dalam Riset Sosial Humaniora menggali permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian. Keempat mahasiswa dari Universitas luar Unimal tersebut melakukan penelitian secara mendalam terhadap fenomena penggunaan gaya bahasa campuran yang akhir-akhir ini ramai digunakan oleh Mahasiswa di Aceh.

“Kami melakukan penelitian selama 4 bulan dengan judul Campur Kode dan Alih Kode pada Penggunaan Bahasa Campuran dan Implikasinya pada Identitas Budaya,” ujar Asti Nur Fauziah, di Kampus Unimal, Senin (12/9/22).

Asti Nur Fauziah menjelaskan untuk menyelidiki fenomena penggunaan bahasa campuran secara komprehensif, Tim Mahasiswa Modul Nusantara/MN-2 dalam penelitiannya menggunakan perspektif indisipliner, yaitu Filsafat dan Sastra Indonesia. Penelitian berupaya menyelidiki fenomena penggunaan gaya bahasa campuran tersebut secara radikal melalui perspektif filsafat postmodernisme apakah mengindikasikan adanya dominasi budaya tertentu dalam hal ini adanya kekerasan simbolik.

“Sedangkan dari perspektif Sastra Indonesia berupaya untuk menyelidiki secara komprehensif mengenai faktor penyebab maraknya fenomena ini,” jelasnya.

Asti Nur Fauziah turut menjelaskan bahwa maraknya penggunaan bahasa campuran Indonesia-Inggris di kalangan mahasiswa pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu antara lain bahasa campuran Indonesia-Inggris dipandang lebih komunikatif. Selain itu, terlihat keren dan prestisius dan memiliki daya pengaruh yang lebih untuk mengarahkan pemahaman lawan bicara.

Disebutnya pengguna gaya bahasa campuran Indonesia-Inggris rata-rata berasal dari kalangan tertentu seperti mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar. Mahasiswa dengan status ekonomi tinggi dan memiliki akses yang lebih terutama dalam pendidikan terhadap penguasaan bahasa.

“Bahkan para pengguna gaya bahasa campuran ini memiliki kelompok atau komunitas tertentu yang tentunya berasal dari latar belakang yang sama,” terangnya.

Baca juga: Pentingnya Keterampilan Literasi, Numerasi Dan 4 Cara Menciptakan Perkuliahan Kreatif di Kampus

Dara Nurhanifah menambahkan berdasarkan data yang dikumpulkan maka kemudian terlihat suatu persoalan ketika seseorang menggunakan bahasa tertentu lalu menerapkannya pada situasi dan kondisi sistem bahasa yang berbeda sebenarnya telah menunjukkan bahwa kuasa struktur bahasa telah bekerja dan tumbuh dalam diri pengguna serta merepresentasikan kuasa bahasa mana yang melekat dalam diri, khususnya kelas sosial. Dengan kata lain, penggunaan gaya bahasa campuran Indonesia-Inggris dalam arti dan situasi tertentu mampu menginklusi seseorang pada kelompok tertentu dan membedakan seseorang dari kelompok lain.

“Hal inilah yang kemudian dipahami sebagai kekerasan simbolik,” paparnya.

Maraknya penggunaan gaya bahasa campuran dikhawatirkan akan mengancam eksistensi bahasa Indonesia itu sendiri sebagai identitas budaya bangsa. Penggunaan gaya bahasa campuran secara lisan lambat laun akan memengaruhi bahasa tulis yang berkembang.

Baca juga: Pendidik Harus Memahami Landasan Filsafat Pendidikan

Dengan begitu, kompleksitas gaya bahasa campuran Indonesia-Inggris di satu sisi merupakan gaya bahasa yang komunikatif, tetapi di sisi lain penggunaan bahasa campuran semacam ini menandakan kusutnya pikiran si penutur dan ketidakmampuan dalam menyusun kalimat. Bahkan, mengandung unsur kekerasan secara simbolik dan dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia sebagai identitas budaya nasional.

“Karenanya diperlukan upaya untuk mengantisipasi dampak buruk dari adanya gaya bahasa campuran,” ucapnya.

Baca juga: Beberapa Tips Belajar Mata Kuliah Yang Tidak Disukai Oleh Mahasiswa

Menanggapi implikasi dari fenomena gaya bahasa campuran, menurut Nurul Husnah, diperlukan berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak. Diantaranya penamaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dalam pendidikan perlu digencarkan, Balai Bahasa atau penggiat bahasa harus menguatkan dan menggelorakan lagi sikap cinta bahasa Indonesia, dan para akademisi perlu melakukan kajian yang lebih komprehensif mengenai bahasa dan identitas budaya.

“Terakhir yang tak kalah penting  adalah masyarakat harus senantiasa membiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” Asti Nur Fauziah.

Reporter : JA | Photo : Asti Nur Fauziah | Editor : Endang


editor

Portal Media Informasi, Edukasi dan Peradaban Dunia