Informasi Kami

Alamat : Jln. Line Pipa, Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Salah satu perempuan yang namanya diabadikan dalam kitab suci Al Qur’an yang tak akan pernah berubah hingga akhir zaman. Kisah cintanya yang menggemparkan hati dan juga mengagumkan. Sosok Zulaikha mengajarkan bagaimana keajaiban cinta untuk ikhlas dalam melepaskan sesuatu dalam hidupnya.


Menilik ceritanya yang pelik. Hatinya tertawan oleh ketampanan seorang insan pilihan. Yusuf,  namanya. Laki-laki utusan Allah, yang memiliki perangai indah. Ketampanannya tersohor, kecerdasannya pun tak diragukan serta akhlaknya yang dipuja. Zulaikha terpesona begitu dalam, sehingga perasaan itu membawanya pada sebuah nuansa yang kelam.

 

Zulaikha mengatur siasat, merayu Yusuf dengan perhitungan yang dianggap tepat. Namun, Allah Awt selalu memberikan jalan untuk hamba yang bertahan atas nama iman. Dalihnya memanggil Yusuf karena ada keperluan, tetapi tujuannya untuk mengikuti hasutan, hawa nafsunya yang tak bisa dikalahkan. Yusuf menolaknya, mengabaikannya, melarikan diri darinya. Yusuf berkata takut pada Rabbinya. Yusuf bisa menerobos pintu-pintu yang sebelumnya terkunci rapat. Tentu saja atas izin-Nya. Lihat, betapa mudah bagi Allah untuk membuka dan menutup sesuatu.

 

Zulaikha kalap, pikirannya semakin gelap. Zulaikha menarik baju Yusuf dari belakang, maka sobeklah baju itu. Zulaikha kemudian menuduh Yusuf berniat keji kepadanya. Allah Swt menunjukkan bahwa Yusuf bersih dari tuduhan Zulaikha yang hatinya sudah teracuni rasa ingin memiliki. Bayi yang hanya bisa menangis, kemudian bisa berbicara manis. Zulaikha terkejut, dan ia tersudut. Sobekan baju Yusuf menjadi bukti bahwa Yusuf tak bersalah. Zulaikha, sekali lagi kalah. Kisah ini pun abadi. Selalu diceritakan dari masa ke masa. Lihat, bagaimana mudahnya Allah yang Maha Kuasa menunjukkan mana yang salah dan benar.

 

Sejak kejadian itu, Zulaikha menjadi buah bibir, ia dicibir. Bagaimana bisa, seorang Zulaikha jatuh cinta pada hamba sahaya? Zulaikha tak terima atas semua itu. Ia ingin membuktikan, bahwa semua perempuan akan melakukan hal yang sama. Tak ada satupun yang bisa lepas dari pesona Yusuf. Maka diadakanlah sebuah pesta di rumahnya. Semua perempuan diundangnya. Sebuah pisau dan buah apel diberikan kepada para perempuan sebagai tamunya. Kemudian ia memanggil Yusuf, membawakan makanan. Saat Yusuf melintas, maka tak ada tatapan mata yang lepas dari wajah ketampanan Yusuf. Tanpa mereka sadari, tangan merekalah yang diiris dengan pisau ditangannya. Zulaikha tersenyum sinis. Ah, mereka pun tak jauh beda dariku, pikir Zulaikha. Mereka hanya melihat Yusuf sekali, tapi sudah bisa membuat mereka melukai diri sendiri. Sedangkan aku, melihat Yusuf setiap hari, bagaimana aku tak jatuh hati, hingga membuat siasat yang begitu berani. Itulah yang terpikir oleh Zulaikha waktu itu.

 

Zulaikha tak mau menyerah. Ia tak kenal lelah. Ia bersikeras. Suaminya mengeras. Memilih Yusuf si kaki tangan atau istrinya yang menawan. Yusuf pun dikorbankan. Ke penjara ia dimasukkan. Yusuf Bukannya susah hati, ia malah senang hati. Karena bisa dijauhkan dari Zulaikha, ia takut terpedaya godaan dunia.

 

Waktu berlalu. Zulaikha masih menunggu. Hingga Yusuf berubah menjadi pemimpin umat, orang penting bagi rakyat. Yusuf menafsirkan mimpi, dan menyelamatkan negeri dari musim paceklik. Sedangkan yang terjadi pada Zulaikha terbalik. Zulaikha menua dan kehilangan segalanya. Harta telah sirna, kekuasaan dan kecantikannya binasa dimakan masa dan usia.



Roda kehidupan yang berubah, membuat Zulaikha membelokkan arah, mencari hidayah. Ia bertanya-tanya, siapa Dia yang begitu dicintai Yusuf, sehingga menolak cintanya? Cinta dari wanita yang tersohor kecantikannya. Siapa Dia yang membuat Yusuf tak kenal takut melawan maut? Siapa Dia yang membuat Yusuf tak pernah menjerit meski dilibas sakit. Sedangkan patung-patung yang diagung-agungkannya, tak pernah sekalipun menolongnya, bahkan ketika ia butuh pertolongan.

 

Titik balik kehidupan Zulaikha dimulai. Zulaikha mengenal Allah dari sebuah peristiwa patah hatinya. Ia dekat dengan Allah karena rasa sakitnya. Ia menjadi begitu cinta pada Allah karena rasa kecewanya pada manusia. Zulaikha sadar bahwa satu-satunya tempat berharap dan bergantung adalah Allah. Allah Swt maha segalanya, menyembuhkan yang sakit, merekatkan yang patah, dan Allah membahagiakan yang kecewa. Hanya Allah-lah yang kita jatuhi hati, tak akan membuat kita patah hati. Zulaikha mengikhlaskan Yusuf untuk wanita lain yang lebih dicintainya. Baginya cinta dari Allah sudah sangat cukup, ia tak akan mengejar cinta lagi dari laki-laki yang bernama Yusuf itu.

 

Zulaikha berubah menjadi wanita shalehah. Bukankah wanita shalehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia dan dicemburui bidadari syurga? Tak ada kerutan di wajahnya, menua pun telah sirna darinya. Ia seperti perempuan muda. Cantik dan menawan seperti dulu kala. Kemudian yang pergi pun kembali. Yang sempat hilang darinya kini pulang padanya. Yang dulu sangat diinginkan, yang ia perjuangkan mati-matian namun akhirnya ia merelakan semua berjalan sesuai aturan-Nya, pun menjadi miliknya dengan cara yang diridha-Nya. Yusuf menyuntingnya. Menjadikan Zulaikha sebagai istrinya. Subhanallah …

 

Mari kita belajar dari kisah Zulaikha, seseorang yang begitu kita inginkan jika kita kejar habis-habisan, mati-matian, maka kita akan kelelahan yang tak berkesudahan. Banyak waktu terbuang percuma, dan saat itu kita bisa kehilangan segalanya. Menjadi orang yang menyedihkan karena perasaan yang tak terbalaskan. Namun, jika kita melepaskan, merelakan dan mengikhlaskan, semua dilakukan semata-mata Lillahitaala, maka seseorang itu akan datang dengan sendirinya tanpa diminta. Jika memang ‘seseorang’ itulah yang ditakdirkan untuk kita.

Yang pasti ikhlas itu melegakan. Membuat kata “melepaskan” menjadi menentramkan jiwa. Merelakan ketika menginginkan, membuat keajaiban menjelma menjadi kenyataan yang mengagumkan. Jika yang ‘diikhlaskan’ tak kembali, maka tentu saja akan ‘diganti’ dengan  yang lebih baik dari yang terbaik. Semua itu bukan hal yang sulit bagi-Nya? Kita hanya cukup percaya. Itu saja. Zulaikha, ambisinya  berubah menjadi ibadahnya. Ah, seharusnya kita semua harus mengucapkan sebuah kata : “Saya butuh hati seikhlas Zulaikha melepaskan Yusuf”. Sungguh kita butuh hati yang seperti itu. Semoga kita menjadi makhluk yang dicintai oleh Allah Swt sebagai pemilik yang sesungguhnya. (@TM)


Resouce : https://variyaka.wordpress.com/| Photo: Ilustrated Google | 

Writer : Assoc. Prof. Dr. Drs. T.M. Jamil, M. Si


administrator